SIAP UNTUK INDONESIA

MUHAIMIN ISKANDAR

Perjuangan politik Muhaimin selama ini adalah upayanya mewujudkan Indonesia maju, bahkan kosmopolitan dalam pemikiran, yang tetap berpihak pada nilai-nilai kerakyatan dan kebhinekaan. Dan, ia meyakini bahwa pengarusutamaan Islam rahmatan lil alamin adalah faktor kunci yang akan mempercepat hadirnya Indonesia yang ia cita-citakan.

Kebhinekaan merupakan fitrah dan jati diri bangsa Indonesia yang diikat oleh ikrar Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa.

Dalam jiwa dan raga bangsa Indonesia yang resmi diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 itu, berbagai elemen menyumbangkan bagian terbaiknya demi berdiri dan tegaknya NKRI. Indonesia disepakati bukan sebagai negara Islam, kendatipun mayoritas penduduknya Muslim. NKRI berdasarkan Pancasila tidak mungkin hadir tanpa jiwa besar dan sikap legowo umat Islam yang setuju Piagam Jakarta dihapuskan demi tegaknya persatuan dan kesatuan nasional.

JEJAK BIOGRAFI

MUHAIMIN ISKANDAR

Lahir di Jombang, Jawa Timur

Tumbuh dan dibesarkan di lingkungan Pesantren Mambaul Ma’arif

1979-1982

Keputusan Muktamar NU

Mengawal keputusan Muktamar NU perihal penerimaan Pancasila sebagai Asa Tunggal, mendukung langkah Gus Dur

1989

Mendirikan LKIS

Mendirikan LKIS (Lembaga Kajian Islam dan Sosial) Periode pembentukan dasar teologis Islam Pemberdayaan atau Islam Kerakyatan

1993

Ketua Umum Pengurus Besar PMII

Menulis buku “Arus Balik Masyarakat Pinggiran”, Buku ini berkisar tentang Kebhinekaan suku, agama, ras dan golongan yang merupakan realitas sunnatullah, yang tidak boleh diberangus atas nama kekuasaan.

1998

Menjabat sebagai Sekjen PKB

1999-2004

Ketua Umum PKB

17 Agustus 2009

Menjabat Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI

2012

Meratifikasi Konvensi PBB tahun 1990 tentang Perlindungan Buruh Migran dan Keluarganya.

2012-2013

Melahirkan Permenakertrans 19/2013 tentang Pembatasan Outsourcing

2013

Mengeluarkan Moratorium pengiriman TKI sektor informal ke negara Timur Tengah yaitu Arab Saudi, Yordania dan Kuwait

24 September 1966

Mengenyam Pendidikan di Madrasah Tsnawiyah Negeri Mambaul Ma’arif Denanyar

1984

Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII)

Wakil Ketua KNPI Yogyakarta

1992

Forum Demokrasi

Aktif di Forum Demokrasi yang diprakarsai Gus Dur Berkarir di Lembaga Pendapat Umum (LPU) Kepala Litbang di Tabloid Detik

1994-1997

Anggota Tim 9

Mendapat tugas dari PBNU sebagai anggota Tim 9, untuk mempersiapkan pendirian Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)

23 Juli 1998

Wakil Ketua DPR RI

Mengawal 4 kali perubahan Amandemen UU untuk meneguhkan NKRI Mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara, menolak Indonesia berdasar agama tertentu

2005 - sekarang

Menerima penghargaan Bintang Mahaputera Adipradana

22 Oktober 2009

Meratifikasi konvensi penting ILO terkait hak berserikat buruh dan penghapusan pekerjaan terburuk untuk anak-anak.

2012

Memulangkan lebih dari 10.000 TKI bermasalah

2012

Memperjuangkan hari libur nasional 1 Mei sebagai Hari Buruh

2015

Kebhinnekaan adalah manufestasi dari sunnatullâh yang telah menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, dengan beragam bahasa dan warna kulit, agar manusia saling mengenal satu sama lain (QS. al-Hujurât/49: 13; QS. ar-Rûm/30: 22).

Bukan hanya saling mengenal, tetapi juga memahami dan bekerja sama untuk mewujudkan kehidupan yang baik dalam wadah negara yang adil makmur (baldatun thayyibatun). Allah bahkan membiarkan manusia menganut banyak agama dan tidak memaksa manusia beriman kepada-Nya (QS. Yunus/10: 99). Rahmat perbedaan itu bukan untuk membuat manusia berpecah belah dengan mempertajam perbedaan, tetapi diramu dengan mencari titik temu dan persamaan. Dalam konteks Indonesia, titik temu itu bernama NKRI berdasarkan Pancasila, UUD 1945, dan semangat Bhinneka Tunggal Ika. Itulah legacy titik temu (k_a_l_i_m_a_t_u_n_ s_a_w_a’) yang diwariskan para founding fathers.